Rabu, 19 September 2018
image
11 MEI 2018

Artikel

Sholawat Sang Nabi

                                               Hikmah Jum'at                                                    Zainal Abidin, SMAN 3 Bandar Lampung


Pendahuluan                                       


Nabi Muhammad SAW diutus Allah SWT lain untuk merahmati semesta alam.

Dan tiadalah Kami mengutus kamu, melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam.(Q.s. 21:107).

Maka tentulah bukan kebetulan bila ternyata Nabi Muhammad SAW dan agama yang dibawanya merupakan rahmat. Merupakan kasih sayang bagi semesta alam.

Tentulah bukan kebetulan, bahkan hal yang wajar bahwa pembawa kasih sayang adalah seseorang yang pengasih dan penyayang. Siapa pun yang mempelajari Sirah Nabi SAW, akan menjumpai kisah-kisah kasih sayang Nabi Muhammad SAW, sebagaimana siapa pun yang mempelajari syariat agama akan dengan mudah menemukan bukti hikmah-hikmah kasih sayang Islam.

Kasih sayang sang Rasul SAW, baik sebagai bapak dan suami dalam lingkungan keluarga, sebagai saudara di kalangan handai taulan, sebagai teman di kalangan sahabat, sebagai guru di antara para murid, sebagai pemimpin di kalangan ummat, bahkan sebagai manusia di tengah mahluk-mahluk Allah yang lain.

Dalam surat At-taubah ayat 128, Allah SWT menyifati nabi Muhammad SAW dengan beberapa sifat yang kesemuanya merupakan penggambaran akan besarnya kasih sayang beliau.

“Benar-benar telah datang kepada kalian seorang Rasul dari kalangan kalian sendiri, yang terasa berat baginya penderitaan kalian; penuh perhatian terhadap kalian; dan terhadap orang-orang Mukmin, sangat pengasih lagi penyayang”(Q.s. 9:128)

Dalam ayat ini disebutkan bahwa Rasulullah SAW adalah orang yang ‘aziizun alaihi maa’anittum, yang merasakan betapa berat melihat penderitaan dan hariishun ‘alaikum yang sangat mendambakan keselamatan kaumnya; dan raufun rahiim, pengasih lagi penyayang terhadap orang-orang yang beriman.

Penderitaan kaumnya terasa berat sekali bagi Rasulullah SAW; baik penderitaan itu dialami di dunia maupun –apalagi- di akhirat. Oleh karena itu Rasulullah SAW hariish, penuh perhatian, dan sangat mendambakan keselamatan kaumnya –ummat manusia- jangan sampai menderita. Dan hal ini dapat dilihat dari sikap dan sepak terjang beliau dalam kehidupan dan perjuangannya: bagaimana beliau menyantuni dan menganjurkan penyantunan terhadap kaum dhu’afa; bagaimana beliau menegakkan dan menganjurkan penegakan kebenaran dan keadilan; bagaimana beliau menghormati dan menganjurkan penghormatan terhadap harkat dan martabat manusia; bagaimana beliau berperingai dan menganjurkan untuk berperangai mulia (akhlaq al-kariimah); dan bagaimana beliau tak henti-hentinya melakukan dan menganjurkan amar ma’ruf nahi munkar dan seterusnya.



Maka tidaklah mengherankan bahwa, sebagai pemimpin, Nabi Muhammad SAW sangat ditaati, karena dan dengan kasih sayang; bukan ditaati karena ditakuti dan dengan kebencian atau keterpaksaan. Jadi, kasih sayang Allah yang mewujud dalam firman-Nya –perintah dan larangan-Nya- melalui pribadinya yang pengasih dan penyayang – ke dalam kehidupan ummat manusia.

Dan kaum muslim yang berimanlah yang selanjutnya diharapkan meneruskan membawa kasih sayang Ilahi itu kepada semesta alam. Bukankah Allah SWT sendiri berfirman kepada Nabi SAW:

Katakanlah: "Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu. Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang” (Q.s. 3:31).


Belajar Mengilmui Sholawat

Sayidina Ali karamallahuwajhah mendekatkan telinganya ke mulut Nabi SAW saat beliau hendak menghembuskan nafas terakhirnya. Terdengar dari mulut Nabi SAW, “Ummati, ummati”.

Begitu cinta Rasulullah SWA kepada ummatnya. Keabadian cinta Rasulullah SAW itu di-wasilah-kan dengan sholawat.

Allah SWT berfirman:

Sesungguhnya Allah dan malaikat-malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi. Hai orang-orang yang beriman, bershalawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya. (Q.s. 33:56)

Membaca shalawat mungkin sendiri di kamar, di perjalanan atau ketika sedang larut dalam pekerjaan. Mungkin pula kita membacanya secara berjamaah di surau-surau atau pada acara-acara tertentu di kampung kita. Umumnya orang tidak hanya membaca sholawat tetapi juga qoshidah, wirid atau dzikir yang kesemuanya merupakan karya para auliya atau pujangga lslam yang telah diwariskan secara turun-temurun sejak berabad-abad yang lalu melalui tradisi Maulid Nabi, pepujian di musholla-musholla atau di tempat dan acara lainnya. Qoshidah bisa bermuatan sholawat, dzikir atau wirid atau juga kalimat-kalimat ungkapan cinta kepada Allah SWT, Nabi Muhammad SAW atau kepada lslam itu sendiri. Adapun wirid atau dzikir adalah kata-kata yang diungkapankan untuk mengingat Allah SWT, menghayati keagungan-Nya, meminta atau memohon sesuatu kepada-Nya. lsinya bisa diambil dari ajaran langsung Allah SWT atau merupakan kreasi atau ciptaan hamba-hamba-Nya.

Sebagaimana sholat, puasa, zakat, haji dan jenis ibadah lainnya, sholawat itu bukan agama dan bukan tujuan dari apa yang dilakukan itu sendiri. Sholawat hanya berposisi -seperti sholat, puasa, zakat, dan haji- sebagai alat dan cara untuk mengantarkan kita pada tujuan sejati yakni dekat dengan Allah SWTserta berdampingan dengan Rasulullah SAW. Meskipun tentu saja sholawat tidak berkedudukan seperti ibadah sholat dan puasa yang mahdhoh dan merupakan rukun lslam. Sholawat merupakan thoriqah atau jalan untuk mengintensifkan dan memperdalam hubungan batin dengan, utama Allah SWT dan kedua Rosululloa SAW. Oleh karena itu yang terpenting dan yang menjadi tolok ukur adalah apakah dengan metode-metode sholawat ini akan menjadi makin dekat dengan Allah SWT dan Rosulullah SAW atau tidak.

Karena tidak ada seseorang yang sungguh-sungguh sanggup dan bisa menilai orang lain maka diri sendirilah yang dalam hati dan batinnya masing-masing harus memacu menggembalakan diri sendiri (ngengon awake dhewe) dan rajin meniti perkembangan mutu hubungan dengan Allah SWT dan Rosulullah SAW. Maka makin banyak kita mengingat Allah SWT dan Rasulullah SAW dengan dan dalam sholawat makin bermanfaatlah apa yang dilakukan dengan sholawat-sholawat yang dibaca.

Sholawat merupakan ungkapan cinta kepada Rasulullah SAW, yang dipelopori langsung oleh Allah SWT sendiri kemudian dikembangkan oleh para pecinta Muhammad Saw. Allah SWT menyuruh kita untuk bersholawat kepada Nabi Mumammad sambil la tegaskan bahwa perintah ini pun la sendiri (bersama malaikat-Nya) yang memelopori perwujudannya. la berbeda dengan perintah-perintah Allah SWT lainnya. Kalau kepada hambanya la menyuruh bersembahyang. Allah SWT sendiri tidak perlu bersembahyang. KalauAllah SWT memerintahkan hambanya untuk berzakat, Beliau sendiri tentu tidak perlu berzakat. Kalau Allah SWT meminta kita untuk berpuasa Allah SWT sendiri tentu tidak terkenai kewajiban berpuasa. Allah tidak melakukan apa yang diperintahkan Dirinya kepada hamba-hambanya.

Tetapi khusus dalam soal sholawat Allah berpenampilan agak berbeda. la yang menyerukan, Ia yang mengasih contohnya. Allah beserta para malaikat-Nya bersholawat kepada Rosulullah SAW. Demikian besar dan agungnya cinta Allah SWT kepada kekasih-Nya yang bernama Muhammad itu sehingga la sendiri mau bersholawat kepadanya dengan memposisikan diri bukan hanya sebagai yang punya perintah tapi juga sekaligus pelopomya.

Tak hanya itu, kita juga perlu melihat cintanya Allah kepada Muhammad dari kenyataan bahwa: kalau kita bersembahyang kita mempunyai dua kemungkinan, diterima oleh Allah atau tidak. Begitu juga kalau kita berpuasa, berzakat atau mengerjakan ibadah yang lainnya. Tetapi kalau kita bersholawat itu pasti diterima oleh Allah sekaligus pasti sampai kepada Rosulullah. Dari sisi kita -hamba Allah dan ummat Muhammad- sholawat merupakan ungkapan terima kasih tiada tara kepada Rasulullah SAW yang telah memandu dan memimpin perjalanan kaum Muslimin kepada Allah SWT. Ungkapan cinta kita kepada Rosululloh itu sekaligus juga merupakan perwujudan cinta kita kepada Alloh. Mustahil kita mencintai Allah SWT, tanpa mencintai Rasulullah SAW. Sebab Rasulullah-lah hamba yang paling dicintai oleh Allah.


Sholawat: Segitiga Cinta

Seraya menegaskan kepada sudara-saudara kita yang barangkali cemas kepada sholawat bahwa pertama, sholawat itu tidak menuhankan Muhammad. Kedua, sholawat itu tidak menganggap Muhammad sebagai anak Tuhan. Kita mempelajari bahwa sesungguhnya yang terjadi adalah adanya segitiga cinta. Di titik atas ada Allah, di titik kanan ada Muhammad SAW dan di titik kiri ada kaum Muslimin.

Masing-masing titik itu disambungkan oleh garis sedemikian rupa sehingga terbentuk segi tiga. Dan segi tiga itu akan bermuatan cinta, sehingga bisa disebut segitiga cinta. Nah, sekarang kita lihat. Pada garis pertrama, antara Allah dengan Rasulullah. Allah sangat mencintai Muhammad SAW dan sebaliknya Muhammad pun sangat mencintai Allah SWT sehingga sempurna aliran cintanya. Kemudian pada garis kedua antara Allah dengan kaum Muslimin, Allah sangat mencintai kita, tetapi kita kadang ogah-ogahan kepada Allah.

Lantas garis yang ketiga, antara Muhammad dengan kita. Muhammad sangat mencintai kita. Muhammad melakukan tirakat untuk kita dan agar do'anya tentang kita dikabulkan oleh Allah, Muhammad menempuh puasa sedemikian rupa supaya Allah pakewuh kepada Muhammad terutama yang menyangkut nasib kita. Mengapa demikian? Selain Allah pada pihak pertama, Muhammad juga punya kekasih berikutnya yaitu para sahabat. Yakni mereka yang hidup sezaman dan pernah bertemu dengan Rosulullah semasa hidupnya. Sedangkan yang tidak bemasib seperti sahabat alias yang hidup sesudah Rosulullah wafat itu bemama ummat lslam.

Para sahabat sudah jelas nasibnya. Mereka hidup bersama-sama dengan Rasulullah berjuang dan lara lapa. Rasulullah sangat mencintai mereka dan selalu mendoakan mereka. Lantas bagaimana dengan ummat lslam ini yang hidup setelah ditinggal wafat Rosulullah. Siapa yang mendoakan mereka?

Nah, Rasulullah itu tidak tega untuk meninggal dunia tanpa meninggalkan atau mewariskan mekanisme kabulnya doa atas nasib kita semua. Jadi bagaimana Allah akan mengabulkan doa kita kalau kita tidak melangsungkan lalu lintas segi tiga cinta itu. Dengan begitu mencintai Muhammad yang misalnya kita ungkapkan lewat sholawat adalah penyikapan yang logis, adil dan sewajamya saja terhadap kasunyatan perhubungan cinta antara Allah, Muhammad dan kita. Demikianlah doa kita akan sampai arusnya kepada Allah kalau melewati Muhammad. Sebab bagaimana mungkin Allah mengabulkan do'a kita kalau kepada kekasih-Nya kita bersikap acuh tak acuh. Allah ini sangat pencemburu dan romantis. Allah menghendaki keindahan pergaulan antara diri-Nya, Kekasih-Nya dan kita.


Sholawat: Akal Basah oleh Hati dan Hati Tegak oleh Akal

Dalam surah Al-Waqi’ah ayat 79, Allah SWT berfirman:

tidak menyentuhnya kecuali orang-orang yang disucikan. (Q.s 56:79)

Untuk menjelas kalimat di atas kita memakai acruan salah satu ayat suci Al-Qur’an yang sudah sangat terkenaf yakni La Yamassuhu lllal Muthohharun. Ayat ini lazimnya ditafsir secara fisik bahwa kalau kita sedang batal alias dalam kondisi tak berwudhu maka tidak diperbolehkan untuk menyentuhnya. ltu benar sekali, terutama dari segi fiqih. Tetapi mari kita luaskan makna dan tafsir ayat tersebut misalnya dengan memahaminya begini: Kita tidak akan bisa bersentuhan dengan makna, hikmah, rizqi, barokah dan segala macam kandungan Al-Qur’an jika kita tidak mengusahakan diri kita untuk terlebih dahulu muthohhar atau tersucikan. Tersucikan itu bahasa lainnya adalah tercerahkan. Dan soal cerah mencerahkan ini Allah SWT sudah sejak dulu menawari manusia untuk bisa mencerahkan diri. Tercerahkan di bidang apa? Kita lihat dulu secara sederhana struktur jiwa manusia.

Dalam jiwa manusia ada tiga sisi atau unsur terpenting yakni akal, spiritual, dan mental. Oleh karena itu bisa dikatakan bahwa ketercerahan itu meliputi tiga sisi tersebut. Jadi tercerahkan secara akal atau muthahhar aqliyah, tercerahkan secara spiritual atau muthahhar rukhiyyafi dan tercerahkan secara mental atau muthahhar nafsiyyah. Ketiganya akan memproduk ketercerahan akhlak atau muthahhar akhlaqiyyah. Umumnya orang hanya memiliki sebagaian saja dari ketercerahan tersebut. Ada yang tercerahkan secara aqliyyahtetapi tumpul secara spiritual dan mental. Ada yang tercerahkan secara spiritual (mletik hatinya), tetapi gagap secara intelektual alias sempit wawasannya serta tidak kokoh mentalnya. Juga tak ketinggalan ada yang tercerahkan secara mental tapi buta secara intelektual dan spiritual.

Demikianlah kalau kita tidak mengupayakan diri agar utuh ketercerahannya maka kita akan tidak bisa bersentuhan dengan Al-Qur'an. Nah, bersholawat adalah salah satu jalan untuk mengutuhkan ketercerahan itu, agar kaffah. Agar tak cuma sesisi saja. Sholawat membuat akal basah oleh hati dan hati tegak oleh akal. Sholawat, metode mengambil jarak dari kesibukan kerja keras sehari-hari

Ketika kita suntuk bekerja atau melakukan sejumlah pekerjaan entah yang rutin atau yang tidak, umumnya kita mempunyai kecenderungan untuk capek, jenuh dan yang terpenting barangkali juga potensial mengidapkan pada diri kita keterasingan tertentu terhadap apa yang kita kerjakan. Pada saat seperti itu yang kita perlukan tak sekedar istiharat dan rekreasi tetapi yang terpokok adalah pengambilan jarak terhadap situasi dan keadaan semacam itu agar kita bisa lebih mengendapkan batin dan pikiran, supaya segar jiwa kita dan siap melanjutkan pekerjaan-pekerjaan berikutnya. Demikian siklus wajar kemanusiaan yang dialami oleh orang. Dalam memenuhi kebutuhan untuk rekreasi dan pengambilan jarak itu orang menempuh banyak hal mulai yang positif sampai yang negatif. Yang positif misalnya orang pergi rekreasi menikmati suasana alam di pantai atau di gunung, plesir ke luar kota dan sebagainya. Yang negatif umpananya orang menenggak minum-minuman keras, atau berjudi. Nah, sholawat hadir sebagai salah satu pilihan yang positif praktis, berdimensi dunia akherat langsung, dalam memenuhi kebutuhan untuk pengambilan jarak tersebut. Meskipun tentu saja ini hanya satu sisi belaka dari sekian dimensi sholawat yang sudah ada dan akan diuraikan singkat dalam tulisan ini.

Sholawat jauh lebih positif secara medis, moral-sosial, keilmuan dan ukhrawi daripada menenggak narkoba atau bahkan dibanding nonton film sekalipun. Dengan menikmati sholawat-sholawat kita akan memperoleh kenikmatan dan kepuasan batin yang lnsya Allah lebih ruhaniah dan sejati. Sholawat merupakan jalan yang lebih selamat dan menyelamatkan ditinjau dari berbagai sisi dan sudut.

(Ya khafiyyal althaf adriknaa biluthfikal khafiy; Ya muhawwilal hawli wal ahwal hawwil haalana ila ahsanil ahwal)


Acuan:

A.Mustofa Bisri. 2007. Membuka Pintu Langit. Jakarta: Penerbit Buku Kompas.Emha Ainun Nadjib. 2001. Segitiga Cinta. Yogyakarta: Zaituna. صلاة بشائر الخيراتعبد القادر الجيلاني

https://gusmus.net/page.php?mod=dinamis&sub=2&id=301https://mocopatsyafaat.blogspot.com/2012/01/sholawat.html


-------

*) Pernah disampaikan di Masjid Al-Wustho Sendangagung Kec. Sendangagung Kab. Lampung Tengah Prov. Lampung, 30 Maret 2014

Sumber: https://www.kompasiana.com/zainalabidinmustofa/sholawat-sang-nabi_54f7c962a3331139208b49d2

Kategori Publikasi

Penerimaan Pseserta Didik Baru SMAN 3 Bandar Lampung TP. 2018-2019

Mekanisme pendaftaran, seleksi,  dan pengumuman kelulusan PPDB SMA Negeri Kota Bandar  Lampung Tahun Pelajaran  2018/2019

Selengkapnya